Secangkir Kopi dan Senja Kala Itu

Terik mentari mulai sirna. Berganti dengan syahdunya pemandangan pantai yang berkolaborasi dengan pantulan cahaya matahari yang mulai terbenam. Burung-burung terlihat ramai di angkasa, bersama-sama kembali ke sarangnya.

Senja ini masih senja yang sama dengan senja-senja yang lainnya. Ditemani secangkir kopi tanpa gula, yang pahitnya masih sama dengan kopi yang kunikmati waktu itu.

Di gubug penjual kopi ini , aku mengamati dua sosok yang sedang bermain dengan hangatnya air pantai. Berkejar-kejaran sambil tertawa penuh kehangatan. Mereka melambai-lambaikan tangan kepadaku, membuatku ikut merasakan kehangatan itu.

Tapi, semua itu berubah ketika angin laut yang mulanya bertiup pelan memberikan aroma khas pantai, dengan cepat berganti menjadi angin yang kencang dan memberikan tambahan kekuatan kepada gulungan-gulungan ombak itu.

Aku mencari dua sosok yang tadi memberikan lambaian tangan kepadaku. Mereka semakin jauh dari pandanganku. Aku berlari ke pantai. Tapi semakin dekat aku dengan pantai, semakin jauh mereka dari pandanganku. Hingga akhirnya menghilang tertelan ombak yang tinggi.

“Udah 2 tahun aja ya, Pak. Enggak kerasa aja. Perasaan baru kemarin terjadi.” Ucapan Ibu pemilik warung seketika membuyarkan lamunanku. “Iya , Bu” jawabku singkat sambil memberikan senyuman kecil.

Iya, andai saja 2 tahun yang lalu tak ada angin dan ombak yang besar, senja ini masih bisa kunikmati sembari menyaksikan mereka belari-lari di pantai. Andai saja aku bisa berenang dan menyelamatkan mereka, aku tak akan berpisah dengan mereka untuk selama-lamanya.

Sudah pukul 6.15 petang saat aku berdiri dan beranjak meninggalkan gubug ibu penjual kopi itu. Sebentar saja aku berhenti dan memandang ke pantai di hadapanku. Sambil mengucapkan doa dalam hati, “Semoga kalian tenang dan bahagia di sana , istri dan anakku.”

*gambar diambil dari google*

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tentang adhytyasegara

#AdaKamar
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Secangkir Kopi dan Senja Kala Itu

  1. samawabalong berkata:

    Cerita pendek yang benar2 pendek namun mengharukan. True story?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s