Lagi dan Lagi Nyalahin Pemerintah, Maaf.

” Ini mas kembaliannya. Maaf mas bis terakhir soalnya. ” Kata seorang anak yang umurnya sekitar 12-13 tahunan seraya memberikan uang kertas Rp 5000,- ..
” Ada ya pengaruhnya di ongkos bis terakhir dan yang bukan ? Ah sudahlah, yang penting sampai tujuan” pikir saya dalam hati.

Ongkos bis yang berbeda tadi emang ga terlalu saya pikirkan. Yang ada di pikiran saya waktu itu adalah si anak kecil tadi. Sebuah pemandangan yang udah biasa saya lihat di kota tempat tinggal saya, Semarang.

Seorang anak yang seharusnya masih sekolah, tapi dia justru harus menjadi seorang kernet bis kota. Naik turun bis ketika mencari penumpang. Dan seringkali berdesak-desakan dengan penumpang bis yang rata-rata berpostur tubuh lebih besar darinya.

Sebuah kenyataan kalau emang di Negara ini, atau gak usah jauh-jauh, di kota ini masih banyak perusahaan, tepatnya perusahaan jasa angkutan umum yang mempekerjakan anak-anak di bawah umur. Miris memang ketika pemerintah gembar-gembor tentang undang-undang tentang pekerja di bawah umur.

Jelas tertulis di UU no 13 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan pasal 68 , ” Pengusaha dilarang mempekerjakan anak ” . Namun ada pengecualian yang tertulis di pasal 69 ayat 1, ” Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 dapat dikecualikan bagi anak yang berumur antara 13 tahun sampai dengan 15 tahun untuk melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik, mental, dan sosial “.

Juga dengan ayat 2, ” Pengusaha yang mempekerjakan anak pada pekerjaan ringan sebagai-mana dimaksud dalam ayat 1 harus memenuhi persyaratan :
a. izin tertulis dari orang tua atau wali
b. perjanjian kerja antara pengusaha dengan orang tua atau wali
c. waktu kerja maksimum 3 jam
d. dilakukan pada siang hari dan tidak mengganggu waktu sekolah
e. keselamatan dan kesehatan kerja
f. adanya hubungan kerja yang jelas
g. menerima upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku

Dari dua pasal di atas aja udah keliatan jelas gimana larangan mempekerjakan anak di bawah umur. Dari pengecualian yang tertulis di pasal 69, jelas banget kalo mempekerjakan anak di bawah umur menjadi kernet bis adalah suatu pelanggaran.

Coba deh bayangin, seberapa besar bahaya yang mengancam anak kecil tadi ? Kita semua tahu kalo kondisi fisik angkutan umum sendiri banyak yang sudah tidak layak jalan. Belum lagi ia harus naik turun mencari penumpang. Ditambah juga harus berdiri di pintu angkutan umum tersebut.

Seberapa bahaya-nya perkembangan psikis dan kehidupan seorang anak kecil yang bergaul di terminal ? Tanpa bermaksud men-judge kehidupan terminal itu buruk. Tapi bukan rahasia umum kl premanisme, umpatan-umpatan kasar dan pergaulan yang tidak sehat juga terjadi di terminal.

Seberapa besar ancaman terhadap kesehatan anak tadi ? Angkutan-angkutan umum seperti bis kota mayoritas menggunakan solar yang kita tahu polusi dari knalpot angkutan tersebut sangat berbahaya, apalagi kalo tiap hari kita hirup terus-menerus.

Ketegasan pemerintah sangat diperlukan. Bukan mau cari-cari siapa yang salah. Tapi, coba deh kita bayangin, misalnya pemerintah benar-benar peduli terhadap kesejahteraan rakyatnya pasti si anak kecil tadi lagi main bola sama temen-temennya bukan jadi kernet bis kota.

Misalnya lapangan pekerjaan banyak di negara ini, pasti orang tua anak tadi bisa bekerja dengan lebih baik sehingga akan mampu membiayai sekolah anaknya.

Misalnya, orang tua anak tersebut mau kerja lebih keras demi masa depan anaknya, pasti anak tadi lagi ngerjain PR di rumah. Dan misalnya orang tua, pemilik bis kota, dan juga sopir bis kota tsb melarang anak tadi untuk menjadi kernet, pasti anak tadi ga perlu teriak-teriak mencari penumpang.

Ada yang ngebantah, ” lo ga tau apa yang dia alami. Lo ga tau gimana kondisi keluarganya. Lo ga tau kenapa dia mau jadi kernet bis kota.”

Oke, saya emang ga tau gimana kondisi dan keadaan yang akhirnya bikin anak tadi mau jadi kernet. Misalnya, emang keluarganya gak mampu dan si anak tadi terpaksa bekerja. Kita baca lagi UU yang udah saya tulis di atas. Masih banyak pekerjaan yang lebih menjamin keselamatan dan kesehatan anak tersebut.

Dan kalau misalnya UU yang mengatur tenaga kerja di bawah umur ini disosialisasikan dan bener-bener nyampe, pasti orang tua anak tersebut bakalan ngerti. Tapi ya mau gimana lagi ? Sosialisasi ga pernah nyampe. Televisi yang harusnya ampuh untuk menjadi lahan sosialisasi malah lebih sering menayangkan berita-berita koruptor, gosip-gosip selebriti, sinetron, dll.

Herannya kenapa pemerintah gak mau ambil celah melalui televisi di saat program-program sinetron lagui tayang ? Di jam-jam itu pasti banyak ibu-ibu yang lagi di depan tv.

Hmmm.. Lagi-lagi pemerintah ya yang disalahin ? Hehehe. Ya mau gimana lagi ? Kita tau mereka bukan dewa-dewi yang setiap omongannya bisa langsung terwujud. Kita cuma bisa berharap kedepannya anak-anak di Indonesia gak ada lagi yang jadi kernet bis kota ataupun kerja-kerja lainnya. Karena mereka adalah generasi penerus kita.

Tentunya juga kita harus ikut mendukung pemerintah, gak usah jauh-jauh. Mulai dari lingkungan sekitar kita aja dulu. Semoga pemerintah lebih konsen lagi, semoga para orang tua juga lebih bijak terhadap anak-anaknya. Dan semoga Indonesia akan merdeka. Merdeka sebenar-benarnya. Amin🙂

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tentang adhytyasegara

#AdaKamar
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s