Maaf dan Selamat Tinggal

Masih pukul 8 pagi waktu itu di stasiun Tugu Jogja. Memang terlalu pagi untuk Denny yang biasanya masih tertidur . Tp pagi ini Denny terpaksa bangun pagi dan bersiap di stasiun. Dia tidak boleh tertinggal kereta tujuan ke Jakarta. Panggilan kerja dari satu perusahaan di Jakarta menjadi tujuan utama Denny.
“Masih satu jam lagi kereta berangkat. Masih cukup waktu untuk menghabiskan secangkir kopi dan beberapa batang rokok.” Pikir Denny.

” Menika Mas kopinipun. Taksih panas Mas” Ibu pemilik warung itu meletakan kopi pesanan Denny di meja.
Sambil menunggu kopinya menjadi hangat, Denny menyalakan sebatang rokok kretek kesukaanya.
Bukan hanya kereta yang Denny tunggu, tapi juga dua sahabatnya Anisa dan Candra. Sahabatnya yang dua minggu yang lalu telah saling menyatakan cinta.

“Andai saja aku memiliki keberanian lebih waktu itu, pasti aku yang akan memilikinya.” Kenang Denny di balik asap rokok yang ia hembuskan perlahan. Dua minggu ini, perasaan cemburu slalu menyergap Denny ketika melihat Anisa dan Candra sedang berduaan.

“Den, sorry ya lama nunggunya. Tadi macet banget di jalan.” Kalimat pertama Anisa ketika dia dan candra datang. “Gak kok. Aku juga belum lama”. Jawab Denny berbohong hanya sekedar untuk menjaga perasaan sahabatnya itu.
“Macet ? Jogja Macet sepagi ini di hari minggu? Ahh sudahlah” gumam Denny dalam hatinya.

Pahit yang terasa ketika Denny menghabiskan kopinya yang tinggal sedikit. Tapi semakin pahit ketika dia lagi2 disuguhi kemesraan Anisa dan Candra di hadapannya.
“Mereka terlihat bahagia. Andai saja aku yang merasakannya. Tapi sudahlah, aku akan ikut berbahagia. Atau lebih tepatnya berpura-pura bahagia di hadapan mereka” kata Denny dalam hati.

Sudah pukul sembilan pagi ketika petugas kereta api menyarankan para calon penumpang untuk segera bersiap. Pelukan perpisahan dari sahabat2nya menjadi bekal perjalanan jauh Denny ke Jakarta.
“Den, hati2 ya. Jangan lupa kirim kabar kalau sudah sampai.” Teriak Anisa dari luar kereta. Denny hanya mengangguk dan tersenyum seiring dengan kereta yang mulai maju perlahan.

Di dalam kereta, Denny menatap ke luar jendela. Tapi bukan untuk melihat pemandangan di pinggiran jalur kereta api. Tapi pikiran Denny terbang jauh membayangkan apa yang terjadi nanti ketika sahabat, yang juga sangat ia cintai membaca selembar kertas yang Denny tinggalkan di rumah sahabatnya tadi malam. Selembar kertas yang berisikan kejujuran Denny akan perasaannya selama ini sembunyikan.
….

Maaf untuk selembar kertas yang mungkin nantinya akan merubah pendapatmu tentangku. Maaf untuk selembar kertas yang nanti akan merusak persahabatan ini.
Maaf untuk ketidakjujuranku selama ini.
Maaf kalo ada rasa cemburu yang hinggap ketika aku melihatmu berdua dengannya, sahabatku yang juga kekasihmu.
Maaf kalau nantinya selembar kertas ini membuatmu membenciku.
Maaf kalo pada akhirnya aku tetap harus jujur kepadamu, hanya agar beban di hati ini terbang menghilang.
Maaf kalau hari2 yang kita lalui bersama justru menjadi penyebab semua ini.
Maaf kalau selama ini aku mengagumimu, aku menyayangimu, bahkan kini aku mencintaimu.
Sangat amat mencintaimu, Candra.
Semoga Anisa adalah wanita yang benar2 kau pilih untuk kebahagianmu.
Sekali lagi maaf dan selamat tinggal. .

….

Air mata Denny pun mengalir deras dari sumbernya. Sampai akhirnya habis, dan meninggalkan letih bagi sang empunya raga.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tentang adhytyasegara

#AdaKamar
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s