Tak Akan Pernah Kembali

Hanya ingin beristirahat dari lelahnya perjalanan.
Habis sudah tenaga untuk terus melangkah.
Lelah sudah mata untuk tetap memandang.
Kering sudah mulut untuk tetap berdendang. .

Apa daya ketika tak lagi ada pilihan selain trus melangkah ?
Melawan, hanya akan semakin tertawan . .
Menjerit, hanya membuat riak semakin pahit. .
Menyerah, berarti kalah. .

Tidak akan terjadi masa di mana menyerah akan menjadi pilihan. .
Terus melangkah dengan kaki2 yang semakin lemah. .
Terus memandang dengan mata yang semakin lelah . .
Dan tetap berdendang agar duka tak meradang. .

Kini usai sudah. .
Kaki-kaki sudah tak mampu lagi melangkah. .
Mata pun hanya bisa terpejam. .
Dan mulut pun terkunci rapat. .
Ketika raga sudah tak mampu untuk menjalankan perintah. .
Ketika berteriak pun tak terdengar. .
Hanya terpejam, diam membisu. .

Lambaian tangan layaknya angin,
Membawa pergi jauh peluh di dahi. .
Isak tangis layaknya tetesan hujan,
Membasahi setiap rongga di tubuh ini. .
Teriakan2 layaknya dongeng,
Hingga makin terlelap dan tak kembali. .
Tak akan pernah kembali .

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tentang adhytyasegara

#AdaKamar
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s