jangan sebut autis! #copas

Sebenarnya postingan gw kali ini adalah untuk menyikapi beberapa orang yg sampe saat ini masih sering mengucapkan kata autis dalam percakapan yang lebih mengarah ke bercanda. Dan mungkin tulisan dari Pandji Pragiwaksono beberapa tahun yang lalu ini bisa menjadi pertimbangan kalian untuk ga lagi2 mengucapkan kata autis dengan sembarangan. . Cekidot!

“Tuh liat, jadi autis gara gara blackberry…”

Posting gue ini bukanlah tentang blackberry.

Tapi tentang kebiasaan orang berucap tanpa berpikir efeknya.

Sekarang sekarang ini, banyak sekali orang yang sering ngomong

“HAHAHAHAHA, dasar autiss!”

atau “Tuh liat, jadi autis gara gara blackberry”

Padahal andaikan dia tahu, di sekitar dia BANYAK sekali orang yang mungkin punya anak, atau adik atau kakak yang autis.

Gue punya temen deket yang baru belakangan gue tau kalau adiknya autis.

Gue punya beberapa temen (orang yang sangat terkenal bahkan…) yang anaknya autis.

Bayangkan elo ngomong seperti itu tanpa sadar bahwa mungkin temen lo anaknya autis.

Pasti sakit sekali rasanya hati temen lo itu.

baru terasa ya?

Dan bukan cuma menggunakan kata autis, tapi juga dalam menggunakan kata “idiot” atau “cacat mental” dan yang sejenisnya…

Gue punya saudara yang terbelakang mentalnya, dan gue SANGAT SAYANG padanya.

Bagi gue, orang yang becanda seperti itu sangat tidak sensitif.

Gue terutama, sangat kuatir kalau menggunakan semua “hinaan” diatas karena gue ga akan pernah tahu kalau ternyata lawan bicara gue atau orang yang mendengarkan punya kenalan, saudara atau anggota keluarga yang autis.

BANYAK BANGET LHO disekitar kita yang punya adik atau anak autis.

I know, i know, kadang kita maksudnya becanda ketika mengatakan bahwa teman kita autis.

Tapisemua itu irelevan dengan apa yang dirasakan mereka yang mendengarkan.

So what if you meant to joke?

It will still hurt people’s feelings!

Mereka tau kok elo becanda, tapi mereka juga di dalam hati berharap agar elo ga becanda seperti itu…

Tulisan ini jadi penting terutama karena fenomena blackberry.

Fenomena itu memperbesar kemungkinan orang menggunakan kata autis dalam setiap becandaan mereka.

Bottomline,

I dont mean to preach.

But please, just watch what you’re saying

Hmmm. . Udah kelar kan bacanya. .
Tapi kembali lagi sih, smua tergantung ke pribadi masing2. Tapi alangkah indahnya kalo kita bisa menjaga perasaan orang lain. .
Seperti yang orang jawa bilang, ajining diri seko lathi. .
Untuk temen2 yang mau baca lebih banyak tulisan2 Pandji Pragiwaksono, bisa langsung klik http://pandji.com . .

Tentang adhytyasegara

#AdaKamar
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s